Jejak Panjang Rendy M. Affandy Lamadjido: Politikus Senior dan Pengabdi Pendidikan dari Tanah Sulawesi  

  • Share

Palu – Jika bangsa ini mengenal Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A. sebagai sosok yang digelar Bapak Reformasi karena keberanian dan suara lantangnya dalam memperjuangkan perubahan, maka di daerah tanah Sulawesi Tengah, nama Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido, MBA juga tercatat sebagai tokoh yang memiliki karakter serupa: teguh pendirian, berpengalaman luas, dan berani menyuarakan kebenaran. Sebagai politikus senior kelahiran Palu, 17 Februari 1960, ia bukan sekadar nama di panggung politik nasional, melainkan sosok yang mewarisi semangat pengabdian negara dari ayahanda tercinta, Abdul Aziz Lamadjido, yang pernah mengemban amanah sebagai Gubernur Sulawesi Tengah.

 

Sebagai putra daerah yang lahir dari rahim keluarga pemimpin, darah pengabdian seolah mengalir alami dalam setiap langkah hidupnya. Ir. Rendy tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang kemudian dikenal luas di gedung rakyat Senayan maupun di tengah masyarakat luas. Namanya melambung tidak hanya karena nama besar orang tuanya, melainkan karena kerja keras dan dedikasi nyata yang ia persembahkan bagi kepentingan rakyat yang menitipkan harapan kepadanya.

 

Dalam perjalanan karir politiknya yang panjang di tingkat nasional, Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Di lembaga legislatif tertinggi itu, ia dipercaya untuk bertugas di Komisi V, sebuah komisi strategis yang membidangi urusan Infrastruktur, Perhubungan, dan Pekerjaan Umum. Di sektor inilah ia mencurahkan gagasan dan pemikirannya agar pembangunan fisik di tanah air, khususnya di daerah asalnya, dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat.

 

Sebagaimana manusia biasa yang tak lepas dari sorotan kamera, perjalanan karirnya pun tak luput dari perhatian publik, baik yang bersifat apresiasi maupun kritik. Salah satu momen yang sempat menjadi sorotan nasional terjadi pada pertengahan tahun 2013 kala itu, di mana namanya masuk ke dalam pemberitaan lantaran tertangkap kamera sedang tertidur saat sidang paripurna DPR RI sedang berlangsung. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan sejarah yang mengingatkan bahwa sorotan publik senantiasa mengawasi setiap sikap dan perilaku para wakil rakyat di tempat tertinggi negara.

 

Namun, di luar dinamika dan hiruk-pikuk panggung politik yang kadang panas dan penuh tekanan, Ir. Rendy ternyata memiliki perhatian besar pada sektor yang menjadi pondasi kemajuan bangsa, yaitu dunia pendidikan. Ia sadar sepenuhnya bahwa politik adalah sarana, namun pendidikanlah yang melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang berkualitas. Oleh sebab itu, ia mencurahkan tenaga dan pikirannya dengan mengelola serta memimpin Yayasan Pendidikan Panca Bhakti Sulawesi Tengah yang berkedudukan di Kota Palu.

 

Di bawah kepemimpinannya yang visioner, yayasan ini tidak berhenti pada satu bentuk pendidikan saja, melainkan terus berkembang dan melakukan pembenahan mutu. Langkah besar yang sangat berarti dilakukan melalui penggabungan sejumlah Sekolah Tinggi yang ada di bawah naungan yayasan tersebut untuk kemudian ditingkatkan statusnya menjadi sebuah perguruan tinggi yang utuh dan mandiri. Maka, berdirilah Universitas AZLAM (UNAZLAM), sebuah institusi pendidikan tinggi yang kini menjadi salah satu kebanggaan warga Sulawesi Tengah dalam mencetak generasi cendekiawan.

 

Salah satu pengamat sosial di Palu menyampaikan pandangannya, “Kita melihat sosok Rendy Lamadjido sebagai perpaduan yang menarik antara politikus kawakan dan pendidik sejati. Ketika di DPR, ia berjuang membangun infrastruktur fisik, namun saat kembali ke daerah, ia sibuk membangun infrastruktur pikiran dan ilmu pengetahuan melalui kampus yang dipimpinnya. Itu sebuah kelengkapan perjuangan yang jarang dimiliki tokoh lain.”

 

Lebih lanjut dikatakan, keberaniannya yang lantang dalam politik sebagaimana para tokoh reformasi, diselaraskan dengan ketelatenan dan kesabarannya dalam mengelola dunia pendidikan. “Pendidikan membutuhkan kesabaran, dan politik membutuhkan keberanian. Beliau memiliki keduanya. Itulah modal utama yang membuat nama Lamadjido tetap dihormati, baik di gedung DPR maupun di lingkungan kampus,” tambahnya.

 

Data sejarah kelembagaan mencatat bahwa transformasi menuju Universitas AZLAM bukanlah proses yang instan, melainkan buah dari pemikiran matang dan perencanaan jangka panjang. Penggabungan berbagai sekolah tinggi tersebut dilakukan agar tercipta efisiensi pengelolaan serta perluasan cakupan ilmu pengetahuan yang bisa diberikan kepada mahasiswa. Langkah ini dinilai sangat strategis agar lulusan yang dihasilkan tidak hanya banyak jumlahnya, namun memiliki kualitas dan keilmuan yang beragam dan mendalam.

 

Berdasarkan data administrasi pendidikan di daerah, Yayasan Pendidikan Panca Bhakti di bawah kepemimpinan Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido terus menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada kemajuan sumber daya manusia. Keberadaan UNAZLAM kini menjadi bukti nyata bahwa perhatian tokoh politik tidak semata berorientasi pada kekuasaan, tetapi lebih dari itu, yaitu menyiapkan penerus bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia.

 

Kini, nama Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido terpatri tidak hanya dalam arsip perjalanan sidang-sidang paripurna di Jakarta, melainkan juga terukir di lembaran sejarah perjuangan pendidikan di Palu. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang tokoh politik bisa sekaligus menjadi pelopor pendidikan, dan sejarah hidupnya mengajarkan bahwa perjuangan bangsa tidak hanya dilakukan di meja rapat parlemen, tetapi juga di ruang-ruang kelas dan laboratorium ilmu pengetahuan.

 

M. Raihan Panintjo

Kontributor Sulawesi Tengah

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *