BBM Alsintan “Disunat”? IP 200 Desa Saleh Mulya Tersendat, Sorotan Keras ke Dinas TPH Banyuasin

  • Share

Banyuasin . Program peningkatan indeks pertanaman (IP) 200 yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Banyuasin justru dilaporkan tersendat di lapangan. Sorotan mengarah pada tata kelola rekomendasi BBM solar untuk alat dan mesin pertanian (alsintan) di Desa Saleh Mulya, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin.21 April 2026

Di desa ini, keterbatasan solar disebut menjadi penghambat utama olah tanah. Sejumlah traktor roda empat (TR4) yang seharusnya menjadi tulang punggung percepatan tanam dilaporkan tidak optimal beroperasi karena kuota BBM yang dinilai jauh dari kebutuhan riil di lapangan.

Berdasarkan temuan awak media dan keterangan petani, rekomendasi solar untuk satu unit TR4 disebut hanya 19–24 liter per minggu. Padahal, dalam praktiknya, kebutuhan olah tanah mencapai ±20 liter per hektare. Dalam sehari, satu TR4 mampu menggarap 3–4 hektare lahan siap tanam (termasuk sistem tabela). Artinya, jatah tersebut bahkan tidak cukup untuk satu hari kerja efektif.

Akibatnya, dari beberapa TR4 yang tersedia di Desa Saleh Mulya, hanya sebagian yang sempat aktif, lalu kembali pasif karena keterbatasan solar. Kondisi ini membuat target percepatan tanam dan IP 200 di desa tersebut dilaporkan tidak mencapai 30%.
Petani setempat mempertanyakan dasar perhitungan rekomendasi tersebut.

Mereka membandingkan dengan informasi dari wilayah lain yang menyebut satu TR4 bisa memperoleh rekomendasi hingga ratusan liter per minggu. Perbedaan angka yang mencolok ini memunculkan tanda tanya besar soal standar perhitungan kebutuhan BBM alsintan.

Upaya konfirmasi kepada pihak dinas melalui pesan WhatsApp kepada salah satu pejabat berinisial “AB” belum mendapat tanggapan hingga berita ini disusun. Sementara itu, dokumen rekomendasi yang beredar disebut ditandatangani oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banyuasin.

Situasi ini dinilai ironis di tengah komitmen Bupati Banyuasin mendorong peningkatan produksi padi dan jagung. Di level kebijakan, percepatan tanam digaungkan. Namun di level operasional, petani mengaku tersendat oleh persoalan elementer: solar untuk alsintan.

Awak media menegaskan, temuan ini merupakan bagian dari kontrol publik. Diperlukan penjelasan resmi dari Dinas terkait mengenai:

Dasar perhitungan rekomendasi 19–24 liter per minggu per TR4.

Standar kebutuhan BBM alsintan untuk olah tanah IP 200.

Alasan perbedaan rekomendasi antarwilayah bila memang terjadi.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi agar program IP 200 tidak terhambat oleh persoalan administratif yang berdampak langsung pada petani.

(Tim)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *