PARIGI MOUTONG – Sungguh pemandangan yang menyakitkan hati nurani rakyat. Di tengah penderitaan dan kekecewaan warga Desa Tolai, I Made Gede Dipayana justru tertawa lebar dengan penuh rasa percaya diri yang melampaui batas. Ia seolah tak memiliki rasa bersalah sedikit pun, bahkan dengan angkuh meyakini bahwa dialah penguasa abadi di desa itu, seakan jabatan kepala desa adalah milik warisan pribadi yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat atau diganti oleh siapa pun juga.
Padahal, fakta yang ada di depan mata sangatlah memilukan. Sejak ia duduk di kursi kekuasaan mulai tahun 2021 hingga sekarang, dana negara yang mengalir ke wilayahnya dan dikelola di bawah tangannya mencapai angka yang sangat fantastis, yaitu Rp 5,6 MILIAR RUPIAH. Uang rakyat sebanyak itu seharusnya mampu mengubah wajah desa menjadi wilayah yang makmur dan sejahtera, namun kenyataannya uang itu seolah beruap dan lenyap tak berbekas.
Proyek pembangunan utama senilai Rp 400 Juta Rupiah yang menjadi tanggung jawabnya kini hanya menjadi bangunan mati yang tidak berguna. Dana bantuan sosial tidak tepat sasaran, pembangunan tidak merata, dan sebagian besar rakyat hidup dalam ketakutan serta ketidakadilan. Semua kekacauan dan kerugian ini terjadi, namun ia tetap tertawa, merasa aman, dan yakin tidak akan tersentuh.
PERTANYAAN :
I Made Gede Dipayana, DIMANA KEBERANIANMU ITU SEBENARNYA?
Kau berani menantang pers, kau berani menyiksa warga, kau berani merasa raja abadi, tapi jawablah dengan lantang: BERANIKAH KAU MUNCUL DAN MENGKLARIFIKASIKAN SECARA TERBUKA DI HADAPAN PUBLIK DAN SELURUH MASYARAKAT TOLAI, BERAPA PERSISNYA JUMLAH ANGGARAN YANG KAU TERIMA DAN KAU PAKAI DARI AWAL MENJABAT HINGGA HARI INI?
Sebutkan angkanya! Rincikan satu per satu penggunaannya! Tunjukkan buku kas dan bukti aslinya di hadapan kami semua!
Jika kau merasa bersih dan benar, mengapa kau selalu menghindar? Mengapa data itu selalu kau sembunyikan seolah itu adalah dosa terbesarmu? Apakah karena jika kau buka, seluruh rakyat akan tahu betapa banyaknya uang yang kau hamburkan, kau nikmati, dan kau salahgunakan, sehingga tak bersisa untuk kesejahteraan kami? Keberanianmu itu ternyata hanya keberanian menindas yang lemah, bukan keberanian menghadapi kebenaran. Kau hanya berani tertawa dan menakut-nakuti kami, tapi lututmu pasti gemetar jika harus berhadapan dengan lembaran uang negara dan rincian penggunaannya. Diam dan menghindar itu bukan tanda kekuatan, melainkan pengakuan nyata bahwa kau sedang bersembunyi di balik kebohongan yang besar.
SERUAN TEGAS KEPADA PENEGAK HUKUM DAN PENGAWAS:
Kepada Bapak Kapolres Parigi Moutong, inilah saatnya Bapak menunjukkan ketajaman dan kekuatan kepolisian!
Apakah Bapak akan membiarkan orang ini terus tertawa mengejek hukum dan kepastian? SEGERA PERIKSA DALAM-DALAM! Jangan hanya menunggu laporan tertulis, tapi jemput kebenaran itu sendiri. Jejak kerugian negara sebesar Rp 5,6 miliar itu sangat jelas terlihat, proyek mangkrak itu saksi bisu yang tak bisa dibantah. Tangkaplah keberaniannya yang semu itu dengan ketegasan hukum. Jika ia bersih, biarkan ia membuktikannya di ruang pemeriksaan, bukan dengan menindas rakyat di jalanan. Segera gerakkan pasukan Bapak, karena semakin lama ia bebas, semakin banyak jejak bukti yang akan ia coba hapus.
Kepada Pihak Kejaksaan Negeri Parigi Moutong, lihatlah dan perhatikanlah sosok ini dengan saksama!
Ia bukan lagi sekadar kepala desa, melainkan tersangka yang sangat percaya diri bahwa ia tak akan pernah disentuh. Apakah Bapak-Bapak di sana akan membiarkan kepercayaan diri yang keliru ini terus berlanjut? Tugas Bapak adalah menegakkan keadilan dan menyelamatkan aset negara. Telusuri setiap aliran dananya, bedah setiap laporan pertanggungjawabannya, dan jangan ragu untuk segera melakukan penahanan jika bukti pelanggaran sudah menggunung seperti ini. Biarkan ia merasakan dinginnya jeruji penjara, bukan kenikmatan hasil curian uang rakyat. Buktikan bahwa kejaksaan adalah benteng terakhir negara yang tak akan membiarkan harta rakyat dihambur-hamburkan oleh orang yang merasa paling berkuasa.
Dan khusus kepada Tim Inspektorat Kabupaten Parigi Moutong, bukalah mata dan pikiran Bapak sekalian sejernih kristal!
Selama ini apa yang sebenarnya Bapak temukan saat melakukan pemeriksaan? Apakah Bapak hanya membaca laporan yang sudah dirapikan di atas meja, atau Bapak benar-benar turun melihat kenyataan pahit di lapangan seperti apa yang kami sampaikan ini? Lihatlah bagaimana gaya kepemimpinan kepala desa ini, lihatlah bagaimana ia memperlakukan uang negara dan rakyatnya. Apakah menurut Bapak pengelolaan yang seperti ini wajar dan sesuai aturan? Jangan sampai fungsi pengawasan Bapak dianggap tidak ada gunanya karena membiarkan penyimpangan yang begitu besar terjadi berlarut-larut di bawah pengawasan Bapak. Segera telusuri, temukan kesalahannya, dan seretlah ia ke jalur pertanggungjawaban yang sebenarnya, agar rakyat tahu bahwa Inspektorat benar-benar bekerja dan bukan sekadar lembaga pelengkap saja.
Kami menyampaikan ini dengan sangat keras dan tegas kepada Bapak Bupati Parigi Moutong. Berpikirlah panjang, cermat, dan cerdas. Jangan sampai Bapak menutup mata dan hati hanya karena pertimbangan latar belakang, hubungan pribadi, atau pun karena adanya bantuan apa pun yang pernah diberikan oleh orang ini kepada siapapun.
Ingatlah Bapak, jangan biarkan satu orang ini menjadi aib terbesar pemerintahan Bapak. Jangan sampai rakyat berpikir dan menilai bahwa Bapak diam saja atau melindunginya karena ada hal yang tidak wajar, negosiasi tersembunyi, atau hubungan kongkalikong. Rakyat sedang mengawasi langkah Bapak. Jika Bapak membiarkan ia terus tertawa dan berkuasa semena-mena, berarti Bapak membiarkan uang negara terus dirampas dan rakyat terus disiksa.
Warga tidak lagi sabar, rakyat tidak lagi diam. SUARA DESAKAN INI MENGGELEGAR DARI SELURUH PENJURU DESA TOLAI:
“CUKUP! KAMI TIDAK MAU LAGI DIPERMAINKAN! SEGERA TINDAK, SEGERA PERIKSA, DAN SEGERA GANTI PEMIMPIN YANG SANGKARANGA INI!”
Ratusan warga telah mendesak dengan suara lantang dan penuh amarah. Mereka menuntut agar kesombongan yang merasa menjadi raja abadi ini segera diputus kekuasaannya. Warga bertanya dengan marah: “Mengapa orang yang jelas-jelas menghambur-hamburkan uang rakyat, membuat proyek mangkrak, dan menyiksa kami yang berbeda pendapat masih duduk tenang dan malah tertawa puas?”
Warga menuntut Bapak Bupati bertindak tegas sekarang juga. Jangan menunggu sampai hancur lebur kepercayaan publik. Jangan biarkan ia terus berpesta di atas penderitaan kami. Segera buktikan bahwa di daerah ini, hukum dan kebenaran lebih tinggi daripada kekuasaan semu dan kesombongan seseorang.
I Made Gede Dipayana, berhentilah tertawa! Kebohongan dan kepalsuanmu sudah terbuka lebar. Jabatan itu milik rakyat, bukan milikmu selamanya. Uang yang kau anggap remeh dan kau biarkan beruap itu adalah darah keringat rakyat yang seharusnya menjadi kesejahteraan kami. Jangan kau kira kami tidak tahu apa yang kau sembunyikan, dan jangan kau kira kau akan selamanya aman di dalam pelarianmu.
Bapak Bupati, Kapolres, Jajaran Kejaksaan, dan Inspektorat, putuskanlah segera. Langkah Bapak hari ini akan menjadi sejarah: apakah Bapak sekalian berpihak pada kebenaran dan rakyat, atau membiarkan satu orang yang merasa abadi itu terus merusak dan menindas tanpa rasa takut.












