PARIGI MOUTONG –Wajah asli politisi kawakan I Ketut Mardika kembali menjadi sorotan tajam masyarakat, khususnya warga dan para pendukungnya di wilayah Kecamatan Sausu. Sosok yang sudah puluhan tahun duduk di lembaga legislatif ini kini dinilai sudah berubah drastis, jauh berbeda dengan sikapnya saat sedang membutuhkan suara rakyat.
Berbagai kalangan, mulai dari warga biasa, aktivis, rekan media, hingga mantan pengurus organisasi, menyampaikan kekecewaan yang mendalam terhadap perubahan sikap yang sangat mencolok pada beliau.
“Dulu saat masa kampanye, entah itu saat dia masih di PDI Perjuangan maupun terakhir kali di Partai Gerindra, Ketut Mardika datang sendiri, mengemis-ngemis minta dukungan, bicara sangat halus, merendahkan diri seolah kami adalah saudaranya sendiri. Dia berjanji seakan akan menjadi pelindung kami. Dia berani datang malam maupun pagi, sekuat tenaga mendekat, asalkan dapat suara. Kami percaya, kami bantu sekuat tenaga agar dia menang,” cerita salah satu pendukung setia yang enggan disebutkan namanya, Sabtu 6/6/2026.
NAMUN FAKTANYA SEKARANG SANGAT MENYAKITKAN:
Begitu surat suara terkumpul, kemenangan diraih, dan jabatan kembali digenggam, perubahan sikap sangat mencolok terjadi. Orang yang dulu dijadikan sandaran dan dimintai tolong, kini tidak lagi dikenal.
Saking lupa dirinya, saat warga, tokoh masyarakat, bahkan mantan anggota KNPI yang dulu gigih membantunya, mencoba bertanya atau meminta nomor teleponnya saja, respon beliau sangat menyakitkan hati.
Beliau dengan angkuh bertanya:
“SIAPA KAMU? ADA APA? URUSAN APA?”
Perlakuan dingin dan sombong ini dirasakan langsung oleh mantan pengurus KNPI, warga Parigi Moutong, maupun seluruh warga Sausu. Padahal, dulu beliau rela datang kapan saja, pagi maupun malam, demi memohon dukungan. Sekarang untuk sekadar bertanya atau meminta nomor telepon saja, rakyat diperlakukan seperti orang asing yang tidak berguna.
TEGURAN KERAS DAN PEDAS DARI RAKYAT:
“KALAU BUKAN KARENA MASYARAKAT, KALAU BUKAN KARENA SUARA RAKYAT YANG KAU KUMPULKAN ITU, TIDAK AKAN PERNAH KAMU BISA DUDUK DI KURSI YANG EMPUK ITU, HEI BAPAK ANGGOTA DEWAN!”
Warga Sausu dengan lantang bersuara memberikan teguran yang sangat dalam dan menyayat hati:
“Ketut Mardika… Ketahuilah! Tidak ada satu contoh pun di sejarah publik DPRD Parigi Moutong, ada orang yang sepertimu! Di depan mulutmu penuh gula dan madu, namun di belakang punggung kami, hatimu ternyata penuh busuk dan duri. Sungguh inilah peribahasa nyata: Pohonnya sudah berbuah lebat, akarnya pun hendak dilupakan. Engkau ibarat orang yang sudah menyeberang sungai, lalu dengan angkuh mematahkan jembatan yang telah menolongmu sampai ke seberang!”
“TIDAK ADA MANIS DI DEPAN, BUSUK DI BELAKANG!
Jangan pernah bermimpi lagi rakyat akan percaya pada sandiwara manismu. Orang sepertimu, tidak pantas duduk di antara wakil rakyat, dan Insya Allah untuk masa yang akan datang, tidak ada lagi tempat bagimu di hati kami. Rakyat sudah mengutuk sikapmu ini. Baik rakyat biasa maupun para praktisi hukum pun sepakat: orang yang lupa jasa orang lain dan lupa pada rakyatnya, tidak layak lagi mendapatkan kepercayaan seumur hidup!”**
Ini adalah bukti nyata kacang lupa kulitnya. Sosok seperti ini sama sekali tidak pantas dan tidak layak lagi dihormati, apalagi dipimpin.
Pertanyaan besar kini menggantung di benak masyarakat: Untuk siapa sebenarnya I Ketut Mardika bekerja dan mengabdi? Apakah hanya untuk dirinya sendiri dan kekuasaannya semata?
M. RAIHAN












